Make your own free website on Tripod.com
Jurnal On-line, tanggapan Koord. Kopertis Wil. IV
Pak Bambang yang baik.
Cerita Anda cukup panjang, ng'gak apa2 asal jangan bawa virus aja. Saya pribadi sangat gembira ada orang seperti Anda2 (mulai dari Pak Tomi, Pak Anton dan Anda sendiri dan teman lain yang "care" terhadap nasib pendidikan kita ini) termasuk memperhatikah nasib dosen untuk kenaikan pangkat dan penelitian -jangan lupa lain kali kita bahas juga nasib para
tenaga adm di PTS-.
Menanggapi beberapa pendapat yang Anda sampaikan, prinsipnya kalau punya idee janganlah terhambat dengan kendala yang membuat kita menjadi mundur, siapkanlah apa yang kita mampu dan jangan menunggu lengkap dahulu (untuk mengatasi kendala tadi), kita coba dahulu (tentu kendala diperhitungkan) dan "perbaikan/penyempurnaan yang berkesinambungannlah" kuncinya untuk mencapai apa yang kita inginkan.
Mudah2an dengan cara seperti ini kita dapat melakukan pada saat yang tepat (maksud saya tidak menjadi kedaluwarsa karena terlalu lama mikirin kapan lengkapnya).
Ok, sekali lagi saya sambut idee ini pasti kami dukung dan selamat bekerja.
wass
iwan kunaefi

Jurnal On-line, tanggapan Bambang
saya juga sependapat dengan penyambut - penyambut terdahulu untuk go saja mewujudkan ide tsb.
Penerbitan jurnal itu perlu dilihat dari 3 aspek.
Pertama, aspek pasar. Disini sudah diulas dengan baik oleh mas Tomi yg saya juga sependapat, itulah fakta yang ada di milis kop-iv ini yg merupakan weakness ide ini. Namun demikian bisa kita lihat strengthnya. Dari diskusi subyek sebelumnya yg terbatas saja sudah mulai ada gambaran. Strength 1 dari ide ini adalah luasnya audience yg dapat dijangkau- hingga internasional.
Kita juga tahu bahwa e-commerce juga dapat berkembang 'ruarrrr' biasa. Bahkan menurut salah satu web yg ditunjukin oleh mas Tomi dikatakan bahwa Microsoft/ Yahoo/ Amazon atau perusahaan yg berbisnis e-commerce dapat menghasilkan keuntungan jauh diatasnya Boeing, retail besar AS (saya lupa) dsb. Padahal kita tahu bahwa Yahoo tsb umurnya baru 'anak kecil' tetapi menjadi anak ajaib dia. Nah dari sini mungkin ada peluang untuk mencari 'audience' yg memiliki minat membaca jurnal tsb.
Kedua, aspek produksi. Kita semua tahu bahwa harga - harga barang nyata itu mahal malahan melonjak lagi gara - gara banyaknya kasus spt Texmaco, Bank Bali, dsb, dsb, dsb (dan saya bingung)...(tak terhingga) Banyak PTS yg
sebenarnya butuh media jurnal* (?) untuk memfasilitasi berkembangnya ilmu (dan KUM dosen) tidak mengembangkannya karena belum menjadi prioritas alokasi anggaran. Nah fasilitas internet disini merupakan medium yg bisa mengatasi persoalan tersebut dimana biaya produksi khususnya cetak dapat ditekan. Hal ini merupakan strength ke-2. Coba bagi PTS yg telah menerbitkan jurnal, tolong dilihat, berapa persen yg bisa dihemat dari penghilangan biaya cetak- apalagi kalo cetaknya banyak. Saya menduga cukup signifikan.
Milis seperti ini ajha bisa diikuti dengan biaya yg minim (pulsa waktu connection download/ upload saja + biaya membuat/ mengelola Milis- apakah ada mas Tomi ?), berapapun jumlah kopinya. Jadi ide ini sebenarnya sangat menguntungkan bagi 'produsen' karena bisa menghemat biaya. Banyak penerbitan jurnal yg saya duga juga masih merupakan cost center ketimbang profit center. Kalo ide ditawarkan pada PTS pengelola jurnal, nah dapat kredit dia (..he..he..he). Lebih jauh lagi dengan teknologi mutakhir -yg sederhana- jurnal tersebut bahkan bisa didesain lebih 'hidup' & menarik pake suara,
animasi (kaya webnya Itenas), plus video lagi.

* catatan utk P. Iwan: hal ini bisa dicoba dibuktikan, misalkan P. Iwan mengannounce tersedianya subsidi 75% dari kopertis untuk pengembangan jurnal di PTS. Setuju ?. Yg pasti kami akan menjadi salah satu PTS yg per-1 mengaplynya.

Ketiga, aspek pengelola. Nah disini memang dibutuhkan pengelola yg sedikit berbeda. Dari segi editorial saya rasa sama saja, sementara dari segi manajemen dan pemasaran yg berbeda. Persoalan I yg harus dipikirin disini adalah seperti yg dikatakan P. Iwan, bgmana (terutama darimana) penarik bagi para produsen pemikirannya. Persoalan lain adalah bgmana menjual- spt Yahoo tsb. Apa yg membuat situs ini nantinya diminati oleh banyak orang diantara 'hutan' situs lainnya.

Kunci dari semua itu sebagaimana didunia nyata- saya rasa adalah kualitas produk + pemasaran. Nah P. Iwan sudah menawarkan para dedengkot ilmu (para S-3) yg bisa dihubungi dengan 'meraga sukma' (tanpa ketemu fisik maksudnya).
Mereka ini bisa ditugaskan (?) untuk jagain kualitas jurnal. Pengelola gratis produksi, kita punya mas Tomi. Tinggal ditawarkan siapa yg mau jadi entrepreneursnya (jadiin duit maksudnya). Mungkin P. Anton (praktek ajaran e-commercenya Pak) atau ....Masa kita punya 200 (PTS) x rata - rata min. 30 dosen = 6.000 SDM tidak mendapatkan satu orangpun yg mau jadi entrepreneur tsb. Jadi Kopertis IV sebenarnya sangat punya potensi itu. (buat mudah saja mas Tom)

Sebenarnya ide P. Anton utk mengembangkan direktori tsb, dapat merupakan cikal bakal. Misalkan dari sekian lama kita telah punya beberapa subyek diskusi- dari mulai hubungan PTS - Yayasan, e-commerce, jurnal on-line, mengembangkan milis, dsb, dsb. Nah setelah list subyek diskusi dibagi dalam direktori tsb, tinggal diserahkan pada dosen - dosen untuk dikembangkan jadi
tulisan jurnal. Model proses produksi ini nantinya dapat dijadikan ciri terbitnya tulisan.

Tertarik untuk mencoba...selamat dan kalo sukses dipatenkan (spt hasil seminar HAKI- eh ada enggak ya HAKI di internet?.) Perintis kalo sukses (spt walkman Sony, Yahoo, Amazon, dsb) hasilnya ruarrr biasa.
maaf kepanjangan...bambang-