Make your own free website on Tripod.com
POTENSI STRATEGI KOMPREHENSIF
DALAM MENGATASI PROBLEMATIKA PENELITIAN DI PTS

Pendahuluan
Perguruan Tinggi Swasta (PTS) barangkali merupakan alternatif yang rasional untuk menghadapi fenomena meningkatnya permintaan masyarakat terhadap kebutuhan pendidikan tinggi dewasa ini. Barangkali pula, kesadaran kita mengenai perlunya keterlibatan masyarakat secara luas untuk turut memikirkan pendidikan (tinggi, khususnya) generasi muda, semakin baik belakangan ini. Pernyataan hipotetik seperti di atas akan semakin panjang dan meluas, dan itu syah-syah saja untuk menjawab kegalauan masyarakat terhadap merembaknya PTS dalam dua dasa warsa terakhir ini. Kegalauan itu terwakili oleh adigium, antara lain "apakah PTS itu musibah atau anugrah" bagi dunia pendidikan.

Namun apapun bentuk kegalauan itu, tidak akan menghapus fakta bahwa PTS telah hadir dalam kamus pendidikan sebagai lembaga formal yang diposisikan secara terhormat sebagaimana PTN (periksa PP 30 tahun 1990).

Perguruan Tinggi (Swasta maupun Negeri) secara normatif, mempunyai tugas dan fungsi yang sama. Akan tetapi secara historis maupun struktural, keberpihakan masyarakat belum sepenuhnya lepas kepada PTN. Masyarakat lebih memilih PTN ketimbang PTS pada saat mereka mencarikan pendidikan lepas pendidikan menengah untuk anak-anaknya. PTN lebih bebas menentukan mutu masukan untuk setiap program studi. Dan PTS hanya sebagian "anak nomor dua" sebagai calon masukannya. Untuk hasil keluaran yang sama, PTS dituntut kerja keras di dalam proses, untuk itu dituntut pula mutu manajemen yang tangguh.

Karena alasan itulah sehingga tidak semua, bahkan sebagian besar, PTS mampu berjalan seimbang sebagaimana mitra sebanding dengan PTN. Sebagian besar PTS masih sihadapkan kepasa "The first generation problem" dengan hulu masalah pada manajemen dan ketersediaan dana dan muara masalah pada rendahnya keluaran kualitatif perguruan tinggi.

Penelitian adalah keluaran kualitatif yang sering dijadikan ukuran untuk memvonis rendahnya mutu PTS. Penelitian menunjukkan bermutu atau tidaknya mekanisme dan proses akademik di kalangan sivitas akademika. Karena pada dasarnya mutu hasil penelitian tidak lepas dari masalah internal dan eksternal kelembagaan maupun kondisi objektif para dosen sebagai peneliti. Bila diklasifikasi setidak-tidaknya terdapat tiga (3) faktor utama yang menyebabkan penelitian dapat berjalan di perguruan tinggi, yakni: (a) Iklim Meneliti, (b) Dana, dan (c) Tenaga Peneliti. Bila dikaji lebih jauh ketiga faktor tersebut berhulu dan bermuara pada kinerja SDM dalam hal ini peneliti.

Upaya mengatasi masalah yang timbul dari faktor-faktor di atas, sangat muskil dihadapi oleh salah satu komponen universitas, misal saja Lembaga Penelitian, akan tetapi perlu sinergisme seluruh komponen yang ada selaras dengan fungsinya masing-masing. Upaya komprehensif perlu dilakukan dengan sasaran antara lain adalah meningkatnya apresiasi sivitas akademika terhadap penelitian, untuk selanjutnya tercapainya tujuan akhir berupa meningkatnya kinerja peneliti dan sekaligus mutu hasil penelitian. Upaya yang dimaksud merupakan rangkaian kegiatan yang memiliki muatan strategi dan memiliki kemampuan mengatasi lebih dari satu masalah dasar yang dihadapi oleh PTS dalam melaksanakan kegiatan penelitian.

Problematika

1. I k l i m
Budaya ilmiah, harus diakui bahwa budaya kita belum atau kurang mendukung terbentuknya suasana kondusif untuk berkembangnya minat meneliti di kalangan generasi muda kita tak terkecuali bagi kelompok intelektual. Meneliti adalah proses "menemukan" yang harus dilandasi oleh kreativitas dan sikap nalar yang kritis, sementara konsep pendidikan dalam tatanan budaya Jawa maupun Sunda lebih menekankan pada transformasi sistem nilai yang mengandung konotasi statis. Anak yang baik dan pintar adalah anak yang mampu mengadopsi secara utuh perilaku dan kehendak orang tuanya. Anak harus hidup dalam koridor berpikir yang sudah baku, penyimpangan dari pada itu, "mblelo" atau "mahiwal" tidak mempunyai tempat dalam tatanan budaya.

Sikap hidup tanpa bantahan dan tanpa mempertanyakan, tumbuh dalam berbagai pranata, tak terkecuali pranata perguruan tinggi. Bahkan di kalangan calon magister atau doktor jarang sekali kita temukan calon yang beragumentasi ilmiah, apalagi berdebat, dengan guru besarnya di ruang kuliah (Soenjono, 111). Tentu saja keadaan ini kurang kurang mendukung tradisi meneliti yang di antaranya harus dimodali oleh pola pikir yang "mbelelo" atau "mahiwal" tadi.

Berkembangnya budaya "lisan" ketimbang budaya "tulisan" memberi-kan kontribusi yang berarti dalam perkembangan iptek dan terciptanya iklim akademis yang mempersyaratkan nalar sistematis. Rendahnya produktivitas menulis menyebabkan ilmu pengetahuan kurang tersosialisasikan secara utuh dan meluas, dan hal itu menyebabkan sulit berkembangnya budaya dialogis yang sangat diperlukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut. Yang lahir kemudian adalah ilmuwan-ilmuwan "pokrol bambu", tidak siap menerima perubahan dan pemikiran-pemikiran baru yang lahir dari sikap kritis.

Media massa merupakan instrumen penting, selain lembaga pendidikan, yang dapat mengubah pola perilaku dan budaya masyarakat sampai saat ini belum mampu berperan sebagai pranata yang dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap iptek. Media massa sampai saat ini efektif untuk sarana hiburan, olah raga dan kesenian di samping berita sosial politik, akan tetapi belum mampu mengemas substansi iptek dalam bentuk yang komunikatif dan informatif. Salah satu contoh, generasi muda perlu diberi wawasan berupa informasi komunikatif tentang perlunya mempelajari ilmu-ilmu dasar, seperti: Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia. Mereka perlu mengetahui prospek masa depan bila mempelajari secara sungguh-sungguh ilmu-ilmu tersebut, jenis pekerjaan apa yang dapat dilakukan dengan menguasai ilmu-ilmu dasar tersebut.

Komitmen Pimpinan, dalam beberapa kasus di PTS pimpinan kurang memiliki komitmen yang tegas dalam menciptakan iklim ilmiah yang sehat di perguruan tinggi. Belum terselesainya masalah-masalah dasar organisasi dan kelembagaan menyebabkan kurang konsentrasinya pimpinan umtuk memper-hatikan aktivitas ilmiah yang memberi kontribusi ke dalam pembentukan iklim ilmiah. Keadaan ini terjadi secara merata dari tingkat universitas, fakultas sampai ke tingkat jurusan. Indikasi ke arah itu di antaranya, kurang intens pimpinan untuk memprakarsai kegiatan ilmiah di lingkungannya, atau lemahnya ketentuan imperatif untuk kegiatan tersebut yang sangat dibutuhkan oleh sivitas akademika.

2. D a n a
Rendahnya alokasi dana penelitian dalam anggaran universitas, merupakan masalah klasik yang sering dihadapi terutama oleh PTS. Terbatasnya sumber dan penerimaan dana, sementara di sisi lain universitas membutuhkan investasi fisik dalam jumlah yang tidak sedikit serta pengeluaran untuk bidang pengajaran yang sulit dinomor duakan menyebabkan bidang penelitian menjadi mata anggaran yang tidak populer dalam anggaran keuangan. Pengeluaran untuk pembangunan dan pemeliharaan gedung serta gaji menjadi selalu lebih tinggi dibanding pengeluaran untuk mutu (Wajoetoemo, 1995, 67). Di mana pengeluaran mutu di antaranya adalah untuk kegiatan penelitian. Secara nasional anggaran penelitian perguruan tinggi berkisar 2,02% dari anggaran total perguruan tinggi (RMA Lemlit Unmer, 1992), Unpas pada tahun anggaran berjalan penganggaran dengan prosentase yang tak jauh berbeda, yakni 1,3%. Prosentase tersebut menunjukkan bukti ketimpangan alokasi anggaran untuk ketiga bidang dalam tridharma perguruan tinggi, yang sangat mencolok.

Kecilnya alokasi dana penelitian di universitas sering diikuti dengan ketidakefesienan penggunaan dana oleh para peneliti itu sendiri. Prosentase honor peneliti dan pengeluaran yang kurang relevansinya dengan materi penelitian selalu lebih tinggi dibanding pengeluaran untuk kebutuhan substan penelitian itu sendiri, misal: bahan, kepustakaan, observasi, sewa alat, dan sebagainya.

Penggunaan dana luar universitas merupakan upaya untuk menutupi keterbatasan alokasi anggaran universitas untuk penelitian. Namun patut diakui pula penggunaan dana luar bukan tanpa masalah khsusnya pada pemanfaatan dana. Berdasarkan pengalaman sekitar 60-70% dari keseluruhan dana yang disepakati biasanya habis untuk pengeluaran yang kurang memiliki relevansi dengan mutu penelitian. Dengan demikian kehadiran dana luar belum dapat mendongkrak mutu proses dan hasil penelitian, selain itu kehadiran dana luar pun belum dapat dijadikan penghasilan universitas, sebagai Indirect Cost seperti halnya di negara-negara maju. Seperti Universitas Yale meminta 37,8% dan Universitas Boston meminta 54,5%, keduanya di AS, dari keseluruhan dana penelitian sebagai Indirect Cost ini universitas dapat membiayai program pelatihan tenaga peneliti yang pada gilirannya akan mencetak tenaga-tenaga profesional di bidang penelitian. Namun harus diakui dana luar dapat meningkatkan intensitas dan pengalaman meneliti para dosen di samping terjalinnya akses universitas dengan pihak luar.

Terbatasnya saran perpustakaan merupakan akibat lain dari terbatas-nya anggaran untuk kebutuhan mutu pendidikan. Idealnya setiap tahun dibutuhkan 400 buku dan berlangganan 20 majalah ilmiah di satu cabang ilmu atau jurusan untuk itu dibutuhkan minimal Rp.15.000.000 (Soenjono, 1992, 118). Bila di satu universitas terdapat 22 jurusan, maka anggaran yang dibutuh-kan Rp.330.000.000 setiap tahunnya. Terbatasnya sarana perpustakaan tidak selalu dikaitkan dengan terbatasnya anggaran, akan tetapi juga dikaitkan dengan kemampuan pengelola perpustakaan. Pengelola perpustakaan hendak-nya tidak hanya mampu mengadministrasikan kepustakaan tetapi dituntut jiwa entrepreneuship dan kreativitas sehingga dapat mengatasi kebutuhan akan bahan kepustakaan oleh para peneliti, dengan berbagai upaya.

Ketiadaan atau keterbatasan media informasi dan komunikasi ilmiah dengan pihak eksternal merupakan masalah lain sebagai akibat langsung dari keterbatasan anggaran universitas, yang memiliki dampak langsung dengan intensitas dan mutu proses serta hasil penelitian. Agar hasil penelitian universitas diketahui khalayak, masyarakat ilmuwan maupun dunia usaha, dibutuhkan media komunikasi, misal: jurnal ilmiah. Namun dalam prakteknya sangat sedikit jurnal-jurnal itu dapat hidup dan berkembang hal ini bukan saja dialami oleh PTS, PTN pun mengalami hal yang serupa, pokok masalahnya adalah keterbatasan peminat media serupa ini sehingga sulit untuk hidup tanpa subsidi terus menerus. Hasil studi mengenai jurnal ilmiah yang dilakukan Dirjen Dikti tahun 1992/1993, menunjukkan bahwa 256 jurnal ilmiah yang dievaluasi hanya 40 buah yang dianggap memadai itu pun tergolong bunga rampai dengan penyebaran terbatas.

Kemandegan media cetak untuk mengkomunikasikan hasil penelitian sebenarnya dapat diatasi oleh diskusi atau seminar hasil penelitian. Akan tetapi media ini pun sering sulit dilakukan, karena sering timbul ketidakefisienan dalam penyelenggaraan. Untuk menyajikan dua atau tiga hasil penelitian saja dengan jumlah peserta 50 orang dibutuhkan jutaan rupiah dan memakan waktu tiga perempat hari. Seminar sering diidentikan dengan penataan ruang yang apik -yang tentu saja tidak murah-, tersedianya konsumsi, dan didahului dengan acara pembukaan yang memakan waktu serta melibatkan puluhan orang sebagai panitia pelaksana yang tentu saja membutuhkan uang lelah yang tidak sedikit.

3. Tenaga Peneliti
Dilihat dari fenomena permasalahan di atas maka dapat dipastikan motivasi meneliti di kalangan dosen tidak dalam keadaan optimal. Meneliti tidak lebih dari sekedar memenuhi salah satu poin untuk kenaikan pangkat (kumulatif), itu pun dalam prakteknya dapat "disiasati". Penelitian dianggap bukan sesuatu yang inheren dalam profesi yang perlu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Karena penelitian tidak dapat meningkatkan penghasilan yang pasti, seperti halnya mengajar atau bekerja di tempat lain -yang walau- mungkin tidak memiliki relevansi yang jelas dengan keprofesiannya sebagai dosen. Research or perish- meneliti atau musnah- bukan lagi adagium yang memiliki daya lekat moralitas bagi para dosen.

Rendahnya kinerja meneliti akibat rendahnya motivasi menyebabkan kecilnya minat menjadi peneliti di kalangan generasi muda. Keadaan ini dapat diperhatikan dalam tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1
Jumlah Peneliti Untuk Setiap 10.000 Penduduk
Negara
Nisbah
Amerika

Jepang

Taiwan

Korea

Indonesia

32,0

28,7

10,0

13,0

0,3

Sumber: Djojonegoro, 1988. Rendahnya kualifikasi peneliti merupakan masalah lain yang memper-buruk kinerja penelitian. Jumlah peneliti yang berkualifikasi ahli untuk peneliti di luar perguruan tinggi, dan dosen berkualifikasi magister dan doktor untuk peneliti di perguruan tinggi, masih sangat terbatas. Hal ini dapat dilihat dalam tabel 2 dan tabel 3.
Tabel 2
Peneliti di Lingkungan Departemen/Lembaga Non Departemen
Jabatan
Departemen
Non Departemen
Jumlah
Ast. Peneliti

Ajun Peneliti

Peneliti

Ahli Peneliti

588

487

212

105

1,064

892

350

151

1,652

1.377

562

256

Jumlah
1.392
2.457
3.849
Sumber: Diolah dari data LIPI, 1992.

Tabel 3
Peneliti di Lingkungan Perguruan Tinggi

Pendidikan
PTN
PTS
Jumlah
Sarjana

Magister

Doktor

31.711

10.419

3.171

76.860

10.725

1.788

108.571

21.144

4.959

Jumlah
54.301
89.373
143.674
Sumber: Diolah dari Informatika, 1992/1993. Strategi Menuju Perbaikan Kinerja Penelitian

Pertama, perguruan tinggi adalah kelompok atau masyarakat yang memiliki norma tersendiri, lahir dari tradisi ilmiah yang sudah berkembang ratusan tahun, memiliki potensi untuk menata budayanya sendiri dengan tidak harus terserabut dari akar budaya lingkungan secara total. Mengembangkan budaya dialogis untuk menggantikan budaya monologis, perlu terus diupayakan karena dengan itulah iklim meneliti dapar tumbuh dengan subur. Untuk menuju ke arah itu dibutuhkan komitmen pimpinan yang lugas dan akomodatif terhadap kemungkinan dinamika akibat pergesekan budaya lingkungan dan budaya kampus.

Kedua, komitmen pimpinan akan membawa misi tertentu dalam infrastruktur perguruan tinggi khususnya dalam bidang penelitian. Implementasi komitmen yang paling tegas adalah memberi contoh. Di samping itu tersedianya aturan dan ketentuan yang jelas dalam pembebanan tugas akan menyebabkan dosen dapat lebih terjamin melaksanakan seluruh tugas tridharma. Saat ini melaksanakan tugas pendidikan dan pengajaran lebih disukai oleh para dosen karena ketentuan penghargaannya sudah jelas. Akan tetapi untuk bidang penelitian atau pengabdian kepada masyarakat ketentuan mengenai itu sama sekali tidak jelas. Alhasil kedua dharma terakhir ini tidak begitu menarik perhatian para dosen.

Ketiga, kondisi keuangan PTS kerap menghambat sistem imbal kerja untuk melaksanakan kegiatan penelitian. Namun reward atas hasil penelitian, dapat diimplementasikan ke dalam bentuk yang non finansial, misal: Penghargaan tahunan untuk karya dan penelitian terbaik di jurnal ilmiah, mengaktifkan forum-forum diskusi, dan lain sebagainya. Hal-hal di atas harus dilihat dalam kerangka pembinaan iklim ilmiah dan pembinaan motivasi serta kemampuan meneliti pada bidangnya.

Keempat, gairah meneliti harus tumbuh subur di berbagai tingkat dalam struktur universitas -dari tingkat program studi, jurusan, fakultas sampai universitas- hal itu hanya dapat dilakukan manakala struktur organisasi Lembaga Penelitian (Lemlit) memiliki akses dan jaringan yang kokoh sampai unit terkecil di fakultas-fakultas. Pusat Penelitian (Puslit) merupakan salah satu simpul jaringan strategis untuk melaksanakan fungsi tersebut. Puslit selain memiliki fungsi sebagai jaringan pembinaan, juga dapat berperan dalam menjalin akses eksternal guna memperoleh sumber dana dari luar. Hal itu dimungkinkan karena Puslit memiliki karakteristik yang spesifik dalam bidang keilmuan, dengan karakteristik yang spesifik itulah, biasanya penyandang dana terdorong untuk lebih intens ketimbang dengan Lemlit yang bersifat umum (univers).

Kelima, dengan terbaginya fungsi pembinaan dan fungsi hubungan eksternal kepada Puslit. Lemlit akan lebih laluasa memfokuskan diri pada program-program diklat, publikasi hasil penelitian dan diseminasi hasil penelitian untuk kepentingan yang lebih luas. Selain itu Lemlit memiliki waktu yang cukup untuk melakukan kajian-kajian institusional beserta pengembangannya.

Keenam, tersedianya pola pendidikan dan latihan (diklat) bagi peneliti dengan berbagai kualifikasi. Untuk dosen muda perlu tersedia jenis diklat yang mengarah pada (a) perluasan visi, (b) pemahaman metodologis, (c) motivasi meneliti, dan (d) kerja kelompok. Jenis pendidikan semacam ini dapat kita sebut sebagai Pendidikan dan Latihan Metodologi Penelitian. Sedang diklat lainnya untuk dosen yang lebih senior, dosen dengan kualifikasi S2 dan S3, diarahkan untuk dapat bersaing memperoleh dana penelitian dari luar universitas. Jenis pendidikan terakhir ini kita sebut sebagai Saresehan Penelitian Profesional. Penggunaan terminologi saresehan untuk jenis diklat ini disesuaikan dengan metode diklat. Secara material pada dasarnya dalam jenis diklat ini lebih banyak didiskusikan mengenai strategi yang digunakan untuk memenangkan persaingan dalam memperoleh dana dari luar. Diklat semacam ini boleh jadi dalam pandangan konvesional diposisikan sebagai bagian dari proses untuk memperoleh manfaat ekonomis bagi lembaga. Akan tetapi senjatanya diklat-diklat ini pun dapat dijadikan produk yang dapat ditawarkan kepada pihak ketiga.

Ketujuh, untuk merangsang budaya menulis -baik untuk hasil penelitian atau tulisan di luar itu- maka dibutuhkan unit penerbitan yang dapat membantu mempublikasikan karya-karya para dosen kepada masyarakat ilmiah lainnya atau masyarakat umum. Setidak-tidaknya unit penerbitan itu dapat mempublikasikan (a) hasil penelitian, (b) buku ajar, dan ( c ) tulisan ilmiah populer. Barangkali kondisi anggaran universitas tidak akan mampu membiayai ketiga bentuk publikasi tersebut, akan tetapi dengan kejelian manajemen untuk jangka waktu tertentu ketiganya dapat berjalan dengan menggunakan subsidi silang. Harus diakui untuk memperoleh manfaat ekonomis dalam jangka pendek barangkali sangat sulit, namun kehadiran unit ini menjanjikan intangible benefit yang tiada taranya bagi PTS, berupa meningkatnya kepercayaan dan nama baik.

Kedelapan, perlu menjalin hubungan kerja fungsional dengan organisasi profesi atau forum-forum ilmiah di luar universitas baik dalam skala regional, nasional maupun internasional. Selain memiliki manfaat untuk pembinaan SDM dan bertukar informasi mengenai perkembangan iptek melalui hasil-hasil penelitian, juga terkandung manfaat yang lebih lagi bagi kepentingan universitas, yakni penerapan ilmu untuk kesejahteraan masyarakat. Implementasi hubungan itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, baik yang langsung maupun tidak langsung. Langsung misalnya dengan memasuki suatu organisasi profesi tertentu, sedang tidak langsung misal dengan masuknya hasil penelitian dan terbitan lain karya para dosen di forum-forum yang lebih luas.

P e n u t u p

Permasalahan yang dihadapi PTS dalam bidang penelitian sangat kompleks, di mana masalah itu berkaitan dengan iklim ilmiah yang berkembang, pendanaan dan kondisi ogjektif dari para dosen sebagai peneliti. Permasalahan yang dihadapi akan berimbas langsung kepada kinerja penelitian secara umum. Upaya pemecahan masalah-masalah tersebut tidak mungkin diatasi secara parsial, akan tetapi dibutuhkan suatu strategi yang bersifat komprehensif dan dihadapi oleh seluruh komponen perguruan tinggi berdasarkan porsi dan kewenangan masing-masing.

Strategi komprehensif meniscayakan perubahan mendasar manakala semua pihak mampu mencermati peran dan posisinya dalam konstelasi sistem universitas sebagai suatu kesatuan utuh. Harus disadari pula universitas berada dalam lingkungan yang dinamis, maka boleh jadi strategi ini akan kehilangan relevansi dalam kontek instrumental, akan tetapi secara substansial strategi ini memuat konsep-konsep pokok yang hidup dalam masyarakat keilmuan.

Daftar Pustaka

Soenjono Dardjowidjojo (1992), PTS dan Potensinya di Hari Depan-Memoir Seorang Purek I, Grasindo, Jakarta.

Wahjoetoemo (1995), Manajemen Perguruan Tinggi pada Era Global, Grasindo, Jakarta.

___________ (1993), Deregulasi Pendidikan, Grasindo, Jakarta

H. Basir Barthos (1992), Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia, Bina Aksara, Jakarta.

Unmer Malang (1994), Menuju Manajemen Perguruan Tinggi yang Efisien, Rumusan Hasil Seminar, 27-28 Juli 1994, Malang.

___________ (1996), Mempersiapkan Mutu Perguruan Tinggi Menuju Kualitas Global, Kumpulan Makalah Seminar Nasional 11-13 November 1996, Malang.

Depdikbud (1995), Pembangunan Pendidikan Nasional Dalam Repelita VI, Jakarta.